Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk di Desa Kuta Meriahkan Tahun Baru Islam 1447 H
Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk di Desa Kuta Meriahkan Tahun Baru Islam 1447 H
Belik, 28 Juni 2025 — Suasana malam di Desa Kuta, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, terasa istimewa pada Sabtu (28/6/2025). Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1447 H, digelar acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menghadirkan dalang kenamaan asal Banyumas, Yaqut Jeder. Acara yang berlangsung di lapangan sepak bola Desa Kuta, ini menyedot perhatian ratusan warga yang datang dari berbagai penjuru desa.
Mewakili Camat Belik, Kasi Trantib Bambang Martono, S.IP, hadir langsung dalam acara tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan dari pemerintah kecamatan terhadap pelestarian budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai kearifan dan religiusitas.
“Kami sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Kuta dalam menyambut Tahun Baru Islam ini. Pagelaran wayang kulit adalah simbol pelestarian budaya yang juga menjadi sarana dakwah dan pembelajaran moral bagi masyarakat,” ujar Bambang Martono, S.IP dalam sambutannya.
Ia juga menambahkan bahwa acara seperti ini perlu terus dilestarikan karena sejalan dengan semangat pembangunan berbasis kebudayaan yang kini didorong oleh pemerintah daerah. “Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Lewat kisah-kisah yang disampaikan dalang, masyarakat diajak untuk merenungi nilai-nilai kehidupan,” imbuhnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Desa Kuta, Bapak Darmo, beserta perangkat desa. Dalam sambutannya, Kades Kuta menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara, baik dari unsur pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat, pemuda, maupun warga desa.
“Kegiatan ini bukan hanya hiburan, tapi juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga serta ungkapan syukur kita menyambut Tahun Baru Islam. Kami berharap semangat kebersamaan dan persatuan ini terus terjaga,” tutur Bapak Darmo.
Acara dimulai selepas sholat Isya dengan prosesi doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Setelah itu, dalang Yaqut Jeder mulai menghidupkan suasana dengan iringan gamelan yang dimainkan oleh para nayaga dari Banyumas. Lakon yang dibawakan malam itu adalah “Semar Bangun Kayangan,” yang mengandung pesan-pesan moral tentang keikhlasan, kepemimpinan, dan kejujuran.
Dalam sela-sela pementasan, dalang Yaqut Jeder juga menyisipkan sindiran sosial dan guyonan khas Banyumasan yang membuat penonton tertawa lepas. “Wayang adalah cara kami berkomunikasi dengan masyarakat, menyampaikan nilai tanpa menggurui,” ujar Yaqut ki Dalang asal Banyumas.
Antusiasme warga tampak jelas hingga dini hari. Banyak dari mereka yang rela duduk lesehan di atas tikar sambil menikmati makanan ringan tradisional seperti kacang rebus dan ubi bakar. Anak-anak hingga orang tua larut dalam alur cerita yang dimainkan.
Salah satu warga, Siti Nurjanah (42), mengaku senang dengan adanya kegiatan ini. “Sudah lama tidak ada wayangan seperti ini. Saya datang bersama anak-anak supaya mereka tahu budaya kita sendiri,” ungkapnya.
Pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Desa Kuta bukan hanya menjadi hiburan, tapi juga ajang edukasi kultural yang efektif. Kegiatan ini dinilai mampu mempererat jalinan sosial antarwarga dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal warisan budaya leluhur.
Dengan keberhasilan acara ini, diharapkan Desa Kuta dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam menggelar kegiatan budaya yang bermuatan nilai-nilai religi dan kebersamaan. Pemerintah Kecamatan Belik juga berkomitmen untuk terus mendukung inisiatif serupa ke depannya.
Melalui momentum 28 Juni 2025, masyarakat Belik membuktikan bahwa kemajuan tidak harus mengikis budaya. Justru dengan pelestarian budaya seperti pagelaran wayang kulit, jati diri bangsa tetap terjaga dalam balutan tradisi dan religiusitas .



